Wednesday, June 29, 2011

Cerpen: "Cerita Seorang Kakek dan Nenek"

Aku menyusuri jalan raya yang sepi, sendirian.

Malam mencekam. Dingin menusuk tulangku. Tapi rasa sakit menusuk jantungku. Kukencangkan jaketku di sekitar tubuhku, seraya mematikan AC mobil. Jalanan yang gelap terlihat suram; lampu-lampu jalanan yang menyala menyinari jalan dengan cahaya kekuningan. Bulan tak kunjung muncul di langit yang berwarna gelap. Malam ini sangat tak menyenangkan – sama seperti suasana hatiku.

Apa yang sebenarnya sedang kulakukan disini? Kenapa aku menyetir mobilku di jalan raya pada jam satu pagi, sendirian? Kenapa aku tidak sedang berada di rumah?

Kurasa jawabannya adalah jika aku berada di rumah, aku tidak akan bisa berpikir jernih.

Seperti biasa, aku dan istriku bertengkar lagi. Masalah sepele, tapi dia selalu membesar-besarkan semuanya. Dia selalu mengeluh; aku orangnya berantakan, tidak bertanggung jawab, tidak pernah bisa mengerti dirinya, segala macam tuduhan dilontarkannya. Mana mau aku diperlakukan begitu? Bukan laki-laki namanya, jika aku tidak membela diriku sendiri. Tapi justru pembelaan diriku itulah yang membuat masalah semakin rumit.

Malam ini, istriku marah karena aku pulang terlambat. Aku sudah berjanji akan pulang pukul sembilan malam ini, tapi ternyata aku baru sampai rumah pukul dua belas. Istriku mengomeliku. Apakah aku salah, jika tiba-tiba di kantor bosku memintaku untuk lembur? Kembali kita bertengkar. Entah sudah keberapa kali bulan ini kita bertengkar. Seingatku, aku dan istriku hampir selalu berdebat. Memang, kuakui, kami berdua orang yang keras kepala.

Tapi tidak perlu mengomeliku sampai separah itu, kan? Menyebalkan, sungguh menyebalkan. Aku merasa aku tidak salah. Dia yang tidak bisa mengerti diriku.

Aku tahu aku harus pergi dari rumah, barang untuk beberapa saat, untuk menenangkan diriku. Jika tidak, aku bisa meledak-ledak, dan istriku hanya akan tambah marah padaku.

Entah kapan aku berniat untuk memutar mobilku dan pulang. Nanti, mungkin, beberapa jam lagi. Aku tetap harus pergi ke kantor besok. Aku butuh tidur. Mataku terasa lelah dan pedih.

Tiba-tiba, aku melihat seseorang sedang berjalan di trotoar. Orang itu bungkuk, memakai topi yang tampaknya sudah usang, juga jaket yang warnanya sudah memudar. Aku menginjak rem, memperlambat laju mobilku. Setelah aku mendekat, baru aku bisa melihat bahwa orang itu adalah seorang kakek-kakek.

Kakek itu sedang meniup-niup kedua tangannya, dan tubuhnya menggigil. Dia juga batuk dan bersin-bersin. Dia membawa sebuah kantong plastik besar. Aku langsung iba melihatnya. Apa yang kakek ini lakukan, malam-malam begini?

Aku berhenti tepat di sebelahnya, dan membuka jendela di sisi penumpang. “Kek, mau kemana malam-malam begini?” tanyaku.

Si kakek menoleh padaku, lalu tersenyum ramah. “Kakek mau pulang,” jawabnya, suaranya serak. “Kakek baru pulang kerja.”

Bekerja? Baru selesai semalam ini?

“Rumah kakek dimana? Ayo masuk, saya antarkan saja.” Aku berkata, sambil membuka pintu penumpang.

Kakek itu menggeleng. “Kakek tidak mau merepotkan. Lagipula, rumah kakek sudah dekat, kok. Terima kasih, Nak.”

“Sudah kek, tidak apa-apa kok. Ayo masuk.”

Setelah menimbang-nimbang untuk beberapa saat, akhirnya kakek itu menyerah, dan masuk ke dalam mobil. Raut wajah kakek itu terlihat begitu lelah termakan usia.

“Rumah kakek dimana?” tanyaku, sambil kembali menjalankan mobil.

“Belok kiri di ujung jalan ini, belok kanan satu gang lagi, lalu belok kiri. Nanti kakek beritahu yang mana rumah kakek.” Jawab si kakek.

Aku menuruti petunjuknya. Kami berdua menyusuri jalan yang sepi. Si kakek terus menerus batuk dan bersin. Aku jadi prihatin kepadanya.

“Kek, kakek kok pulang kerja malam sekali?” tanyaku. “Memang kakek kerja dimana?”

Kakek itu tersenyum kecil. “Kakek bekerja jadi pengumpul botol bekas, Nak,” jelasnya. “Kakek baru selesai mengumpulkan botol dan menjualnya ke perusahaan daur ulang.”

“Pengumpul botol bekas?” ulangku.

Kakek itu mengangguk. “Makanya kakek bawa-bawa kantong plastik besar.”

“Kakek selesai kerja malam sekali,” kataku. “Kakek tidak capek?”

“Yah, capek sih iya,” jawabnya, tetap sambil tersenyum. “Tapi habis mau bagaimana lagi? Itu mata pencaharian kakek satu-satunya.”

“Kakek tidak punya motor?”

“Punya, tapi sekarang sedang rusak, dan belum bisa kakek perbaiki. Oh, tolong belok di sini, Nak. Itu dia rumah kakek!”

Aku berhenti di depan sebuah rumah yang kecil dan terlihat seperti sebuah gubuk. Atapnya sepertinya bocor, dan dindingnya terlihat kotor dan lusuh. Rumah itu terletak di pinggiran sebuah jalan kecil yang gelap dan sedikit terpencil, ditutupi pepohonan yang cukup lebat.

Kakek itu melangkah keluar dari mobil. “Terima kasih sudah mengantar kakek, Nak,” katanya. Lalu dia merogoh-rogoh saku celananya.

“Ti – tidak usah, kek. Saya mengantar kakek ikhlas kok,” kataku buru-buru. Bagaimana bisa aku meminta uang kepadanya?

“Tidak, kakek tidak enak –“

“Tidak apa-apa, kek, sungguh!” aku bersikeras.

Kakek itu tetap ingin memberiku uang, tapi saat sedang membuka semua kantung bajunya, tiba-tiba kakek itu terbatuk dan hampir jatuh.

Aku langsung melompat keluar dari mobil dan menangkapnya. Dia terlihat sangat capek dan lemas. Aku memapahnya, lalu menuntunnya masuk ke dalam rumahnya tanpa mempedulikan si kakek yang terus menolak.

Rumah itu terlihat lebih reyot lagi dari dalam. Tidak banyak perabotan yang dimiliki si kakek; hanya sebuah sofa, TV kecil, meja makan, dan sebuah dapur mungil di belakang rumah. Atapnya memang bocor, langit-langitnya terlihat lembab dan dipenuhi lumut. Aku semakin merasa kasihan pada kakek ini.

Aku mendudukkan si kakek di sofa berwarna krem. Aku pergi ke dapur di belakang rumah, lalu kembali dengan segelas air.

“Terima kasih, Nak,” si kakek menjawab seraya meminum airnya. “Kau baik sekali. Maaf kakek jadi merepotkan.”

“Tidak sama sekali, kek,” kataku jujur. “Kakek harus hati-hati, kesehatan kakek sepertinya sedang buruk. Kakek harus banyak-banyak istirahat.”

Si kakek hanya tersenyum tipis. Tiba-tiba pintu salah satu kamar di rumah itu terbuka, dan seorang nenek terhuyung-huyung berjalan keluar. Nenek itu mengenakan gaun tidur yang kelihatannya sudah terlalu sering dicuci, dan kakinya telanjang. Rambutnya yang panjang dan berwarna abu-abu tua berantakan. Wajahnya terlihat begitu lemah dan letih. Aku langsung yakin bahwa nenek ini pasti istri si kakek.

“Akhirnya Bapak pulang juga,” si nenek berkata. “Malam sekali.”

“Bu, sedang apa masih bangun jam segini?” tanya kakek, sambil buru-buru berdiri dan menghampiri istrinya. “Bagaimana? Kamu masih sakit? Sudah baikan?”

“Sudah baikan kok, Pak,” nenek itu menjawab. “Sudah, Bapak tidak usah khawatir. Ini siapa, Pak?”

“Orang yang bertemu Bapak tadi di jalan,” si kakek berkata, menoleh ke arahku. “Anak muda ini tadi mengantarkan Bapak sampai rumah. Baik sekali. Dia juga yang tadi membantu Bapak masuk.”

“Selamat malam,” aku mengulurkan tangan kepada nenek. “Maaf mengganggu malam-malam begini.”

“Mengganggu? Oh, tidak sama sekali! Justru saya berterima kasih, anda baik sekali mau mengantarkan suami saya. Tunggu sebentar, saya akan membuatkan kita semua teh.” Nenek menjabat tanganku dengan senang.

“Bu, jangan, sudah, biar Bapak saja yang bikin,” kakek langsung mencegah istrinya pergi ke dapur.

“Bapak kan sudah bekerja seharian, biar saya saja yang bikin teh. Bapak duduk dulu, hangatkan diri.” Nenek berkata, sambil menyentuh pipi suaminya dengan penuh kasih sayang. Kemudian dia berlalu ke dapur di belakang.

Si kakek duduk di sebelahku sambil mendesah.

“Kek, istri kakek juga sedang sakit?” tanyaku, penasaran.

Kakek mengangguk. “Nenek selalu sakit-sakitan dari dulu, Nak. Badannya rapuh sekali, kasihan nenek.” Jelasnya. “Kakek selalu ingin memastikan nenek baik-baik saja, tidak terlalu capek atau terlalu banyak pikiran, jadi kesehatannya tidak memburuk. Soalnya nenek gampang sekali sakit.”

“Tapi kakek juga sedang sakit, kan,” kataku. “Kakek juga harus banyak istirahat.”

Kakek terkekeh. “Kakek tidak akan apa-apa. Kakek kan kuat.” Ujarnya. “Nenek yang perlu kau khawatirkan.”

“Kakek dan nenek, sudah lama menikah?” tanyaku.

“Sudah empat puluh lima tahun,” kakek menjawab.

“Sudah lama juga,” kataku, kaget. Suatu perasaan bersalah mulai muncul di dalam diriku. Kakek dan nenek ini, mereka sudah menikah begitu lama, tapi masih saling menyayangi dan saling menjaga. Sementara aku dan istriku, yang baru menikah delapan tahun saja, kerjaannya ribut dan saling teriak.

Nenek akhirnya kembali dari dapur sambil membawa nampan besar berisi teko dan tiga cangkir teh. Nenek menaruh nampan di atas meja, lalu menawarkan aku secangkir teh, yang kuterima dengan senang hati.

“Nek, saya dengar dari kakek kalau nenek sakit,” kataku, setelah meneguk tehku. “Nenek sudah tidak apa-apa sekarang?”

“Yaa, begitulah,” nenek menjawab, santai. “Nenek hanya terlalu capek. Badan nenek memang lemah sih. Untung ada kakek, yang selalu menemani dan menjaga nenek. Jadinya nenek selalu merasa senang, walaupun sakit sekalipun.” Nenek menggenggam tangan kakek, dan kakek mencium pipi nenek dengan lembut.

Melihat semua ini membuatku merasa semakin bersalah. Kakek dan nenek ini sangat mencintai satu sama lain, saling menjaga dan menyayangi. Aku merasa, pada saat itu, betapa bodohnya aku, karena jarang menunjukkan kepada istriku bahwa aku menyayanginya. Aku jarang menciumnya, ataupun memeluknya. Jangankan mencium dan memeluk, mengucapkan “selamat pagi” saja jarang. Kerjaanku di kantor memang menjagaku tetap sibuk, tapi…

“Kakek dan nenek… rukun sekali ya,” ucapku perlahan.

“Yah, kita tidak setiap saat rukun juga,” kakek menjawab. “Namanya juga suami-istri, pasti sering bertengkar. Tapi ya, kita mencoba untuk selalu rukun. Saling pengertian, saling memaafkan.”

“Kakek dan nenek tidak mau kalau bertengkar lama-lama,” nenek menambahkan. “Tidak peduli siapa yang salah, yang penting kita saling minta maaf dan mengerti. Kami memang mungkin tidak kaya, tapi nenek merasa hidup nenek bahagia, karena punya suami seperti kakek.”

“Kakek juga merasa begitu,” kakek mengiyakan. “Pokoknya, nenek itu istri terbaik untuk kakek.”

Aku merasa tenggorokanku tercekat. Dua orang ini bisa begitu tulus mencintai satu sama lain. Saat mereka bertengkar, mereka berdua melupakan gengsi dan rela saling memaafkan. Sangat berbeda dengan aku dan istriku. Kami selalu tidak mau mengalah, selalu adu kuat, yang berujung pada pertengkaran yang tak ada habisnya.

Aku merasa malu dan sedikit iri melihat kedua kakek-nenek ini. Mereka bisa begitu rukun dan begitu bahagia menjalani hidup, bersama, seakan-akan mereka sama sekali tidak bisa dipecah. Mereka hidup dengan sangat sederhana, tapi tampaknya hidup mereka amat sangat bahagia.

Aku seakan-akan tersadarkan malam itu; aku sadar bahwa yang istriku dan aku butuhkan untuk hidup rukun dan bahagia adalah saling pengertian, saling memaafkan, dan saling mencintai satu sama lain. Memang, sepertinya ketiga hal ini sangat mudah dilakukan, tapi berdasarkan pengalaman, aku tahu bahwa mengerti, memaafkan, dan mencintai seseorang butuh usaha yang besar. Tekad yang besar.

Dan aku bertekad untuk melakukan semua itu.

Aku menyayangi istriku; sangat menyayanginya. Aku sadar akan hal itu. Dan kurasa… kurasa aku harus mulai menunjukkan perasaanku padanya. Aku ingin seperti kakek-nenek ini, sudah hidup bersama selama bertahun-tahun lamanya, dan tetap rukun serta saling mencintai.

Aku ingin aku dan istriku menjadi seperti kakek dan nenek ini.

Aku menaruh cangkir tehku yang sudah kosong di atas meja. “Kakek, nenek, terima kasih, kalian telah memberiku sebuah… penerangan.” kataku, sambil tersenyum.

Kakek dan nenek terlihat agak kaget dan bingung. “Penerangan?” tanya nenek.

“Ya, penerangan,” ulangku. “Terima kasih banyak atas tehnya, nek. Saya mau pamit dulu.” Aku berdiri, dan menjabat tangan kakek dan nenek.

“Oh, cepat sekali sudah mau pulang,” nenek menyayangkan. “Jaga dirimu baik-baik, Nak. Kau anak yang baik. Terima kasih sekali lagi telah membantu kakek.”

“Sama-sama, nek. Semoga nenek cepat sembuh. Kakek juga.” Jawabku.

“Hati-hati,” kakek mengingatkan. “Malam ini udara dingin sekali.”

Aku berterima kasih sekali lagi kepada mereka, lalu berjalan kembali ke mobilku. Setelah melambaikan tangan kepada mereka, aku melaju mundur dari depan rumah kecil mereka, kembali ke jalan raya, dan kembali ke jalan yang akan membawaku pulang ke rumah.

Tidak seperti sebelumnya, sekarang aku merasa tidak sabar untuk pulang.

Istriku belum tidur saat aku kembali.

Dia masih menungguku di ruang makan, duduk sambil memijit-mijit pelipisnya. Istriku memang begitu. Dia orang yang gampang panik dan cemas. Dia selalu mengkhawatirkanku, apalagi jika dia tidak tahu keberadaanku.

Mungkin karena cemaslah tadi dia marah-marah padaku karena pulang terlambat.

Istriku menoleh dan menatapku begitu aku sampai di meja makan.

“Sudah malam,” kataku pelan. “Kenapa belum tidur?”

“Kau dari mana saja?” tanyanya, tanpa mengacuhkan pertanyaanku. Dia langsung berdiri. “Kau tahu kau sudah menghilang selama dua jam?”

Aku hanya diam.

“Kau pikir aku bisa tenang, jika kau menghilang begitu saja dari rumah, tanpa membawa hand phone maupun dompetmu? Kau pikir aku bisa tidur, kalau aku tidak tahu dimana di Bumi ini kau berada?” istriku mulai mengomel lagi.

Tapi kali ini, rasanya berbeda. Aku sadar bahwa dia marah padaku hanya karena dia mencemaskanku. Amarahnya muncul dari rasa cintanya padaku, bukan sebaliknya. Kenapa aku tidak pernah menyadari hal ini sebelumnya? Kenapa aku selalu melihatnya sebagai seseorang yang keras kepala, arogan, dan menyebalkan? Kurasa selama ini aku selalu dibutakan oleh rasa kesalku, jadi aku tidak bisa melihat betapa sebenarnya istriku mencintaiku.

Dan betapa sebenarnya aku mencintainya.

Daripada ikut mengomel dan membentak-bentaknya, kali ini, aku maju dan memeluk istriku. Dia terdiam, kaget. Aku mencium keningnya, lalu berbisik, “Aku tahu, aku salah. Maafkan aku. Aku berjanji untuk lebih baik lagi lain kali. Aku minta maaf, dan aku mencintaimu.”

Jelas istriku terkejut mendengar semua ini. Tapi kemudian diapun tersenyum, dan matanya berkaca-kaca.

“Aku juga minta maaf,” akhirnya dia berkata. “Dan aku mencintaimu juga.”

Kami berpelukan dan tertawa bersama, menertawakan kebodohan kita, menertawakan segala rasa marah kami yang seakan-akan menghilang begitu saja. Sudah lama rasanya aku tidak melihat istriku tertawa lepas seperti ini. Aku merindukan tawanya. Merindukan senyumannya. Aku tidak ingin membuatnya menangis lagi.

Aku akan berusaha.

Terima kasih, kakek dan nenek, ucapku dalam hati, seraya memeluk istriku dengan erat.


No comments:

Post a Comment

Post a Comment